Tampilkan postingan dengan label Kebidanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kebidanan. Tampilkan semua postingan

Anatomi dan Fisiologi Payudara



A.    STRUKTUR ANATOMI PAYUDARA
Payudara wanita disebut juga dengan “ Grandula Mammaria “ adalah alat reproduksi tambahan.
Payudara (mammae, susu) adalah kalenjar yang terletak di bawah kulit, di atas otot dada. Fungsi dari payudara adalah memproduksi susu untuk menutrisi bayi. Manusia mempunyai sepasang kalenjar payudara, yang beratnya lebih 200 gram, saat hamil 600 gram dan saat menyusui 800 gram.

Dukungan Bidan dalam Pemberian ASI



A.    Peran Bidan
Bidan mempunyai peranan yang sangat istimewa dalam menunjang pemberian ASI. Peran bidan dapat membantu ibu untuk memberikan ASI dengan baik dan mencegah masalah-masalah umum terjadi.
Peranan awal bidan dalam mendukung pemberian ASI adalah :
1.      Meyakinkan bahwa bayi memperoleh makanan yang mencukupi dari payudara ibunya.
2.      Membantu ibu sedemikian rupa sehingga ia mampu menyusui bayinya sendiri.
     Wanita yang baru pertama kali melahirkan, khususnya mereka yang belum pernah menyusui sebelumnya, membutuhkan dukungan dan penenangan (dukungan emosional), mereka perlu diajari dasar penempelan yang baik kepayudara sehingga bebas dari rasa sakit (dukungan praktis) dan mereka juga membutuhkan informasi faktual tentang menyusui (dukungan informasi) dalam bentuk tahapan sederhana dan teratur.

Bayi Cukup ASI



A.    PENGERTIAN BAYI CUKUP ASI
Indikasi bayi cukup mendapat ASI adalah tidurnya nyenyak, segar saat terbangun, dan berat badannya bertambah sesuai perkembangan usia. Cari tahu tanda-tanda lainnya di sini.
Buang air kecil lebih dari 6 kali sehari dengan warna urin yang tidak pekat dan bau menyengat.Berat badan naik lebih dari 500 gram sampai 1 kg setiap bulan pada trimester pertama kehidupannya. Berat badannya kemudian bertambah sekitar 600 gram setiap bulan pada trimester kedua dan bertambah sekitar 400-500 gram setiap bulannya pada trimester ketiga. Bayi terlihat rileks dan puas setelah menyusu dan akan melepas sendiri mulutnya dari payudara ibu.
Setelah menyusu bayi langsung tertidur karena ASI memicu produksi hormon endorfin yang merangsang tidur.
Setelah berumur beberapa hari, bayi akan buang besar (BAB) setidaknya dua kali sehari dengan tinja berwarna kuning atau gelap dan mulai berwarna lebih cerah setelah hari kelima belas.

Nifas


•NIFAS ( PUERPERIUM )
•Asal kata : ( bhs. latin)
•      puer à bayi
•      parous à  melahirkan  
•Pengertian :
 Nifas adalah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pulihnya kembali alat kandungan menjadi seperti semula .
•Kejadian penting dlm masa nifas à involusi dan lactas.

SEKS EDUCATION BAGI REMAJA



BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Promosi kesehatan menurut WHO adalah suatu proses yang memungkinkan individu untuk meningkatkan kontrol dan mengembangkan kesehatan mereka.
Promosi kesehatan (pender, 1996) adalah pemberian motivasi untuk mencegah timbulnya penyakit, deteksi dini, menjaga keseimbangan fungsi tubuh dengan membatasi adanya penyakit.Selama 20 tahun terakhir, ada beberapa perbedaan pendapat tentang cara yang terbaik untuk promosi kesehatan. Promosi kesehatan tradisional, dibuat untuk merubah perilaku individu kearah gaya hidup yang lebih sehat dengan cara individu merasa nyaman dengan lingkungannya (Gillies, 1998)
Seks bebas merupakan hubungan yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan tanpa adanya ikatan perkawinan. Perilaku seks bebas yang terjadi pada remaja dapat disebabkan oleh kurangnya perhatian orang tua terhadap anak yang disebabkan karena kesibukan masing-masing sehingga anak tidak memperoleh pengetahuan tentang seks bebas dari orang tua dan oleh sebab itulah kadang kala anak terjerumus pada pergaulan yang salah. Perilaku seks bebas juga dapat terjadi jika remaja kurang mempunyai pemikiran yang matang untuk berbuat sesuatu ditambah lagi karena dorongan dari teman sebaya. Kadang teman mempunyai pengaruh yang buruk dan memaksa mencoba sesuatu yang baru sehingga mereka mencoba melakukan hubungan seks dengan lawan jenis tanpa memikirkan akibat yang akan terjadi.
Sampai saat ini masalah seksualitas selalu menjadi topik yang menarik untuk dibicarakan. Hal ini dimungkinkan karena permasalahan seksual telah menjadi suatu hal yang sangat melekat pada diri manusia. Seksualitas tidak bisa dihindari oleh makhluk hidup, karena dengan seks makhluk hidup dapat terus bertahan menjaga kelestarian keturunannya.
Pada masa remaja rasa ingin tahu terhadap masalah seksual sangat penting dalam pembentukan hubungan baru yang lebih matang dengan lawan jenis. Padahal pada masa remaja informasi tentang masalah seksual sudah seharusnya mulai diberikan, agar remaja tidak mencari informasi dari orang lain atau dari sumber-sumber yang tidak jelas atau bahkan keliru sama sekali. Pemberian informasi masalah seksual menjadi penting terlebih lagi mengingat remaja berada dalam potensi seksual yang aktif, karena berkaitan dengan dorongan seksual yang dipengaruhi hormon dan sering tidak memiliki informasi yang cukup mengenai aktivitas seksual mereka sendiri (Handbook of Adolecent psychology, 1980). Tentu saja hal tersebut akan sangat berbahaya bagi perkembangan jiwa remaja bila ia tidak memiliki pengetahuan dan informasi yang tepat. Fakta menunjukkan bahwa sebagian besar remaja kita tidak mengetahui dampak dari perilaku seksual yang mereka lakukan, seringkali remaja sangat tidak matang untuk melakukan hubungan seksual terlebih lagi jika harus menanggung resiko dari hubungan seksual tersebut.
Karena meningkatnya minat remaja pada masalah seksual dan sedang berada dalam potensi seksual yang aktif, maka remaja berusaha mencari berbagai informasi mengenai hal tersebut. Dari sumber informasi yang berhasil mereka dapatkan, pada umumnya hanya sedikit remaja yang mendapatkan seluk beluk seksual dari orang tuanya. Oleh karena itu remaja mencari atau mendapatkan dari berbagai sumber informasi yang mungkin dapat diperoleh, misalnya seperti di sekolah atau perguruan tinggi, membahas dengan teman-teman, buku-buku tentang seks, media massa atau internet.
Memasuki Milenium baru ini sudah selayaknya bila orang tua dan kaum pendidik bersikap lebih tanggap dalam menjaga dan mendidik anak dan remaja agar ekstra berhati-hati terhadap gejala-gejala sosial, terutama yang berkaitan dengan masalah seksual, yang berlangsung saat ini. Seiring perkembangan yang terjadi sudah saatnya pemberian penerangan dan pengetahuan masalah seksualitas pada anak dan remaja ditingkatkan. Pandangan sebagian besar masyarakat yang menganggap seksualitas merupakan suatu hal yang alamiah, yang nantinya akan diketahui dengan sendirinya setelah mereka menikah sehingga dianggap suatu hal tabu untuk dibicarakan secara terbuka, nampaknya secara perlahan-lahan harus diubah. Sudah saatnya pandangan semacam ini harus diluruskan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dan membahayakan bagi anak dan remaja sebagai generasi penerus bangsa. Remaja yang hamil di luar nikah, aborsi, penyakit kelamin, dll, adalah contoh dari beberapa kenyataan pahit yang sering terjadi pada remaja sebagai akibat pemahaman yang keliru mengenai seksualitas.
Dewasa ini kita sering mendengar istilah pendidikan seks baik melalui koran, majalah, radio, maupun televisi. Mungkin karena banyaknya pendapat mengenai seks itu, membuat pengertiannya menjadi semakin kabur, mungkin juga tambah simpang siur. Lebih lanjut penyusun akan menyampaikan tentang pendidikan seksual bagi remaja dalam makalah ini.

The Transtheoritical Model


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
The Transtheoretical Model menurut Prochaska dan Diclement, 1983 adalah suatu model yang integrative tentang perubahan perilaku. Kunci pembangun dari teori lain yang terintegrasi. Model ini menguraikan bagaimana orang-orang memodifikasi perilaku masalah atau memperoleh suatu perilaku yang positif dari perubahan perilaku tersebut.
Model ini adalah suatu perubahan yang disengaja untuk mengambil suatu keputusan dari individu tersebut. Model melibatkan emosi, pengamatan dan perilaku, melibatkan pula suatu kepercayaan diri.
Catatan/Kertas ini akan mempertunjukkan aplikasi dari Transtheoretical Model itu. Model telah sebelumnya berlaku untuk suatu perilaku masalah yang luas. Ini meliputi perhentian merokok, latihan, diet rendah yang gemuk, radon/radium yang menguji, alkohol menyakititi, berat/beban mengendalikan, kondom gunakan untuk perlindungan HIV, perubahan keorganisasian, penggunaan dari sunscreens untuk mencegah kanker kulit, obat/racun menyakititi, pemenuhan medis, mammography menyaring, dan menekan manajemen. Dua dari aplikasi ini akan diuraikan secara detil, merokok manajemen tekanan dan perhentian. Yang terdahulu menghadirkan area yang dengan baik diteliti di mana berbagai test dari model ada tersedia dan intervensi efektif didasarkan pada model telah dikembangkan dan dievaluasi di berbagai percobaan/pengadilan yang klinis. Yang belakangan menghadirkan suatu area permasalahan di mana riset yang didasarkan pada Transtheoretical Model adalah di langkah-langkah yang perkembangan.

Masalah-Masalah dalam Pemberian ASI



BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada pemberian ASI sering terdapat masalah, baik pada teknik pemberian ibu dan anatomi payudara ibu, serta kemampuan anak untuk menghisap dan anatomi orofaringeal anak. Seringkali ketidakcukupan jumlah susu sering dinilai sebagai suatu masalah, sehingga terjadi pemberhentian pemberian ASI. Seringkali juga wanita mengeluh karena luka pada puting susu, dimana hal ini terjadi karena posisi dan perlekatan anak yang salah ketika menyusui. Dalam keadaan normal, wanita secara fisiologis mampu untuk memproduksi susu yang cukup. Kurangnya pengertian dan pengetahuan ibu tentang manfaat ASI dan menyusui menyebabkan ibu – ibu mudah terpengaruh dan beralih kepada susu botol (susu formula). Kesehatan/status gizi bayi/anak serta kelangsungan hidupnya akan lebih baik pada ibu- ibu yang berpendidikan rendah. Hal ini karena seorang ibu yang berpendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan yang luas serta kemampuan untuk menerima informasi lebih tinggi.
Menyusui merupakan aktivitas yang sangat penting baik bagi ibu maupun bayinya. Dalam proses menyusui terjadi hubungan yang erat dan dekat antara ibu dan anak. Tentunya kaum ibu ingin dapat melaksanakan aktivitas menyusui dengan nyaman dan lancar. Namun demikian, terkadang ada hal-hal yang mengganggu kenyamanan dalam menyusui. Masalah-masalah yang sering dialami oleh ibu sehubungan dengan menyusui dan bagaimana mengatasinya akan dipaparkan pada pembahasan kali ini.
B.  RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah masalah-masalah yang terjadi pada ibu saat pembererian ASI?
2.      Apakah masalah yang terjadi pada bayi saat pemberian ASI?
C.  TUJUAN
1.      Memberikan pengetahuan tentang masalah menyusui pada ibu.
2.      Memberikan pengetahuan tentang masalah menyusui pada bayi.

PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI GIZI SEIMBANG PADA BALITA



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat  Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Dalam pembuatan makalah ini penulis telah mendapat dukungan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.   Ibu Lohita Indu A, S.SiT sebagai dosen mata kuliah Promosi Kesehatan (PROMKES) yang telah memberi masukan.
2.   Rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan masukan, kritik dan saran dalam pembuatan makalah ini.
Dalam pembuatan makalah ini penulis sudah berusaha secara maksimal dengan segenap pengetahuan dan kemampuan, tapi penulis menyadari masih banyak kekurangan baik materi maupun cara penulisannya. Maka dari itu mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

                                                                           Semarang, 09 Oktober 2012

                                                                                                        Penulis
                                                           









BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
Promosi kesehatan menurut Soekidjo, 2005 adalah upaya memasarkan, menjual, memperkenalkan pesan-pesan atau program-program kesehatan sehingga masyarakat menerima/”membeli”/mengenal pesan-pesan kesehatan tersebut,yang akhirnya masyarakat mau berperilaku hidup sehat.
WHO (1984), merevitalisasi pendidikan kesehatan dengan istilah promosi kesehatan, kalau pendidikan kesehatan diartikan sebagai upaya perubahan perilaku maka promosi kesehatan tidak hanya untuk perubahan perilaku tetapi juga perubahan lingkungan yang memfasilitasi perubahan perilaku tersebut.
Lawrence Green (1984), Promkes adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik dan organisasi yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.
Konsumsi gizi yang baik dan cukup seringkali tidak bisa dipenuhi oleh seorang anak karena faktor eksternal maupun internal. Faktor eksternal menyangkut keterbatasan ekonomi keluarga sehingga uang yang tersedia tidak cukup untuk membeli makanan. Sedangkan faktor internal adalah faktor yang terdapat didalam diri anak yang secara psikologis muncul sebagai problema makan pada anak.

Deteksi Dini Komplikasi Pada Masa Nifas dan Penanganannya

1. PERDARAHAN PERVAGINAM
Perdarahan pervaginam yang melebihi 500 ml setelah bersalin didefenisikan sebagai perdarahan pasca persalinan. Terdapat beberapa masalah mengenai defenisi ini :
a. Perkiraan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang sebenarnya, kadang-kadang hanya setengah dari biasanya. Darah tersebut bercampur dengan cairan amnion atau dengan urine, darah juga tersebar pada spon, handuk dan kain di dalam ember dan di lantai.
b. Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar haemoglobin ibu. Seorang ibu dengan kadar Hb normal akan dapat menyesuaikan diri terhadap kehilangan darah yang akan berakibat fatal pada anemia. Seorang ibu yang sehat dan tidak anemia pun dapat mengalami akibat fatal dari kehilangan darah.

c. Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu beberapa jam dan kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadi syok.
Penilaian resiko pada saat antenatal tidak dapat memperkirakan akan terjadinya perdarahan pasca persalinan. Penanganan aktif kala III sebaiknya dilakukan pada semua wanita yang bersalin karena hal ini dapat menurunkan insiden perdarahan pasca persalinan akibat atonia uteri. Semua ibu pasca bersalin harus dipantau dengan ketat untuk mendiagnosis perdarahan fase persalinan.