The Transtheoritical Model


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
The Transtheoretical Model menurut Prochaska dan Diclement, 1983 adalah suatu model yang integrative tentang perubahan perilaku. Kunci pembangun dari teori lain yang terintegrasi. Model ini menguraikan bagaimana orang-orang memodifikasi perilaku masalah atau memperoleh suatu perilaku yang positif dari perubahan perilaku tersebut.
Model ini adalah suatu perubahan yang disengaja untuk mengambil suatu keputusan dari individu tersebut. Model melibatkan emosi, pengamatan dan perilaku, melibatkan pula suatu kepercayaan diri.
Catatan/Kertas ini akan mempertunjukkan aplikasi dari Transtheoretical Model itu. Model telah sebelumnya berlaku untuk suatu perilaku masalah yang luas. Ini meliputi perhentian merokok, latihan, diet rendah yang gemuk, radon/radium yang menguji, alkohol menyakititi, berat/beban mengendalikan, kondom gunakan untuk perlindungan HIV, perubahan keorganisasian, penggunaan dari sunscreens untuk mencegah kanker kulit, obat/racun menyakititi, pemenuhan medis, mammography menyaring, dan menekan manajemen. Dua dari aplikasi ini akan diuraikan secara detil, merokok manajemen tekanan dan perhentian. Yang terdahulu menghadirkan area yang dengan baik diteliti di mana berbagai test dari model ada tersedia dan intervensi efektif didasarkan pada model telah dikembangkan dan dievaluasi di berbagai percobaan/pengadilan yang klinis. Yang belakangan menghadirkan suatu area permasalahan di mana riset yang didasarkan pada Transtheoretical Model adalah di langkah-langkah yang perkembangan.

Masalah-Masalah dalam Pemberian ASI



BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada pemberian ASI sering terdapat masalah, baik pada teknik pemberian ibu dan anatomi payudara ibu, serta kemampuan anak untuk menghisap dan anatomi orofaringeal anak. Seringkali ketidakcukupan jumlah susu sering dinilai sebagai suatu masalah, sehingga terjadi pemberhentian pemberian ASI. Seringkali juga wanita mengeluh karena luka pada puting susu, dimana hal ini terjadi karena posisi dan perlekatan anak yang salah ketika menyusui. Dalam keadaan normal, wanita secara fisiologis mampu untuk memproduksi susu yang cukup. Kurangnya pengertian dan pengetahuan ibu tentang manfaat ASI dan menyusui menyebabkan ibu – ibu mudah terpengaruh dan beralih kepada susu botol (susu formula). Kesehatan/status gizi bayi/anak serta kelangsungan hidupnya akan lebih baik pada ibu- ibu yang berpendidikan rendah. Hal ini karena seorang ibu yang berpendidikan tinggi akan memiliki pengetahuan yang luas serta kemampuan untuk menerima informasi lebih tinggi.
Menyusui merupakan aktivitas yang sangat penting baik bagi ibu maupun bayinya. Dalam proses menyusui terjadi hubungan yang erat dan dekat antara ibu dan anak. Tentunya kaum ibu ingin dapat melaksanakan aktivitas menyusui dengan nyaman dan lancar. Namun demikian, terkadang ada hal-hal yang mengganggu kenyamanan dalam menyusui. Masalah-masalah yang sering dialami oleh ibu sehubungan dengan menyusui dan bagaimana mengatasinya akan dipaparkan pada pembahasan kali ini.
B.  RUMUSAN MASALAH
1.      Apakah masalah-masalah yang terjadi pada ibu saat pembererian ASI?
2.      Apakah masalah yang terjadi pada bayi saat pemberian ASI?
C.  TUJUAN
1.      Memberikan pengetahuan tentang masalah menyusui pada ibu.
2.      Memberikan pengetahuan tentang masalah menyusui pada bayi.

PEMENUHAN KEBUTUHAN NUTRISI GIZI SEIMBANG PADA BALITA



KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat  Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.
Dalam pembuatan makalah ini penulis telah mendapat dukungan dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1.   Ibu Lohita Indu A, S.SiT sebagai dosen mata kuliah Promosi Kesehatan (PROMKES) yang telah memberi masukan.
2.   Rekan-rekan mahasiswa yang telah memberikan masukan, kritik dan saran dalam pembuatan makalah ini.
Dalam pembuatan makalah ini penulis sudah berusaha secara maksimal dengan segenap pengetahuan dan kemampuan, tapi penulis menyadari masih banyak kekurangan baik materi maupun cara penulisannya. Maka dari itu mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih, semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

                                                                           Semarang, 09 Oktober 2012

                                                                                                        Penulis
                                                           









BAB I
PENDAHULUAN

A.  LATAR BELAKANG
Promosi kesehatan menurut Soekidjo, 2005 adalah upaya memasarkan, menjual, memperkenalkan pesan-pesan atau program-program kesehatan sehingga masyarakat menerima/”membeli”/mengenal pesan-pesan kesehatan tersebut,yang akhirnya masyarakat mau berperilaku hidup sehat.
WHO (1984), merevitalisasi pendidikan kesehatan dengan istilah promosi kesehatan, kalau pendidikan kesehatan diartikan sebagai upaya perubahan perilaku maka promosi kesehatan tidak hanya untuk perubahan perilaku tetapi juga perubahan lingkungan yang memfasilitasi perubahan perilaku tersebut.
Lawrence Green (1984), Promkes adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik dan organisasi yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.
Konsumsi gizi yang baik dan cukup seringkali tidak bisa dipenuhi oleh seorang anak karena faktor eksternal maupun internal. Faktor eksternal menyangkut keterbatasan ekonomi keluarga sehingga uang yang tersedia tidak cukup untuk membeli makanan. Sedangkan faktor internal adalah faktor yang terdapat didalam diri anak yang secara psikologis muncul sebagai problema makan pada anak.

Deteksi Dini Komplikasi Pada Masa Nifas dan Penanganannya

1. PERDARAHAN PERVAGINAM
Perdarahan pervaginam yang melebihi 500 ml setelah bersalin didefenisikan sebagai perdarahan pasca persalinan. Terdapat beberapa masalah mengenai defenisi ini :
a. Perkiraan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang sebenarnya, kadang-kadang hanya setengah dari biasanya. Darah tersebut bercampur dengan cairan amnion atau dengan urine, darah juga tersebar pada spon, handuk dan kain di dalam ember dan di lantai.
b. Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar haemoglobin ibu. Seorang ibu dengan kadar Hb normal akan dapat menyesuaikan diri terhadap kehilangan darah yang akan berakibat fatal pada anemia. Seorang ibu yang sehat dan tidak anemia pun dapat mengalami akibat fatal dari kehilangan darah.

c. Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu beberapa jam dan kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadi syok.
Penilaian resiko pada saat antenatal tidak dapat memperkirakan akan terjadinya perdarahan pasca persalinan. Penanganan aktif kala III sebaiknya dilakukan pada semua wanita yang bersalin karena hal ini dapat menurunkan insiden perdarahan pasca persalinan akibat atonia uteri. Semua ibu pasca bersalin harus dipantau dengan ketat untuk mendiagnosis perdarahan fase persalinan.